Minggu, 09 Oktober 2011

Hidroponik


Aeroponik berasal dari kata aero yang berarti udara dan ponus yang berarti daya. Jadi aeroponik adalah memberdayakan udara. Aeroponik merupakan salah satu tipe dari hidroponik karena air yang berisi larutan hara disemburkan dalam bentuk kabut hingga mengenai akar tanaman. Salah satu kunci keunggulan aeroponik adalah oksigenasi dari tiap butiran kabut halus larutan hara sehingga respirasi akar lancar dan menghasilkan banyak energi.
Teknologi penanaman dengan teknik aeroponik merupakan teknologi bercocok tanam sayuran yang sudah mulai banyak dilakukan oleh pengusaha agribisnis. Hasil produksi sayuran yang ditanam dengan menggunakan teknologi ini sekarang ini sudah mulai banyak ditemukan di berbagai pasar swalayan di kota-kota besar. Meskipun harganya tinggi, namun sayuran ini selalu habis dibeli konsumen. Konsumen biasanya dari kalangan menengah keatas. Alasan konsumen tetap memburu produk ini karena kualitas baik, higienis, sehat, segar, renyah, beraroma dan citarasa tinggi.
Pada awal usaha, biasanya kualitas produksi merupakan tujuan kerja. Setelah itu disusul dengan kuantitas dan kontinuitas. Untuk mencapai produk yang diharapkan, banyak faktor yang mempengaruhi, seperti penguasaan sistem budidaya dan faktor lingkungan. Setelah dapat berproduksi, kemampuan memasarkanpun diperlukan agar usaha tersebut menguntungkan.
Sejarah perkembangan budidaya tanamn aeroponik disebabkan oleh faktor utama yaitu semakin sempitnya lahan pertanian karena adanya alih fungsi lahan baik menjadi perumahan, pasar swalayan, dll. Bermula dari hal itulah akhirnya pembudidyaan tanamn secara aeroponik semakin dikembangkan.





BAB II
ISI

Aeroponik berasal dari kata aero yang berarti udara dan ponus yang berarti daya. Jadi aeroponik adalah memberdayakan udara. Aeroponik merupakan salah satu tipe dari hidroponik karena air yang berisi larutan hara disemburkan dalam bentuk kabut hingga mengenai akar tanaman. Salah satu kunci keunggulan aeroponik adalah oksigenasi dari tiap butiran kabut halus larutan hara sehingga respirasi akar lancar dan menghasilkan banyak energi.
Aeroponik merupakan satu cara penanaman sayuran yang terbaik menggunakan udara serta ekosistem air/nutrien tanpa penggunaan tanah.
Aeroponik adalah salah satu modifikasi hidroponik terbaru. Teknik ini menempatkan tanaman sedemikian rupa hingga akar tampak menggantung. Nutrisi diberikan dengan cara pengkabutan secara merata di daerah perakaran. Beragam bentuk yang berprinsip pada teknik ini telah diciptakan selama lebih dari 20 tahun. Beberapa negara mulai tertarik untuk mencoba, di antaranya Korea. Di Indonesia, teknik penanamannya baru sampai pada hidroponik substrak dan NFT.
Teknologi penanaman dengan teknik aeroponik merupakan teknologi bercocok tanam sayuran yang sudah mulai banyak dilakukan oleh para pehobis tanaman. Selain caranya yang dibuat cukup sederhana dan alat yang digunakan tidak sulit didapat, teknik aeroponik ini juga dapat dilakukan di teras rumah.
Hasil produksi sayuran yang ditanam dengan menggunakan teknologi ini sekarang ini sudah mulai banyak ditemukan di berbagai pasar swalayan di kota-kota besar. Meskipun harganya selangit, namun sayuran ini selalu ludes dibeli konsumen. Alasan konsumen tetap memburu produk ini, disamping rasa sayuran yang renyah dan tidak pahit, tampilan atau penampakannya cukup sempurna (tidak ada lubang bekas hama) serta mempunyai nilai gizi yang tinggi karena diberi nutrisi sesuai kebutuhan tanaman.
Teknik aeroponik ini umumnya dimanfaatkan untuk pertanaman sayuran daun. Namun, untuk tanaman yang lebih besar misalnya mentimun digunakan alat yang sedikit berbeda. Banyak media nontanah yang dapat digunakan untuk budidaya tanaman. Selain hidroponik dan akuariumponik, budidaya tanaman -khususnya sayuran- juga bisa dilakukan melalui aeroponik. Kita bisa membuatnya dengan konstruksi sederhana, mudah, dan murah.
Konstruksi sederhana ini cocok untuk penggemar tanaman berhalaman sempit.
Perlengkapan aeroponik sederhana ini terdiri atas :
1. Ember plastik,
2. Pompa celup berkekuatan 100 watt,
3. Pipa PVC,
4. Emiter (sprayer), dan
5. Styrofoam
6. Timer
Aeroponik mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan budidaya tanaman menggunakan tanah. Kelebihan budidaya tanaman dengan menggunakan aeroponik dibandingkan dengan budidaya tanaman di tanah yaitu:
Variabel
AEROPONIK
TANAM DI TANAH
Kebutuhan lahan

Luasan yang sempit masih bisa digunakan, kontur lahan tidak harus datar, produktifitas lahan tinggi
Harus luas, realtif datar, perlu rotasi, produktifitas lahan tergantung jenis tanah
Ketersediaan barang

Ada sepanjang tahun

Tidak selalu ada sepanjang tahun
Kualitas barang

Bersih, sehat, renyah, aroma kurang

Tidak selalu bersih, belum tentu sehat, relatif liat/alot, aroma kuat
Sarana & prasarana

Butuh green house, suplai listrik yang relative besar
Tidak butuh sarana yang mahal
Sarana & prasarana

Butuh green house, suplai listrik yang relative besar,
Tidak butuh sarana yang mahal
Teknologi
Teknologi tinggi
Teknologi sederhana
Operator

Harus mengerti teknologi, sedikit orang
Tidak perlu mengerti teknologi, banyak orang
Investasi awal
Sedang – besar
Kecil – sedang
Waktu

Pendek (1 bulan panen), tanpa pengolahan lahan, setiap hari tanam-setiap hari panen

Sedang-panjang (1,5 – 2 bulan panen), ada waktu untuk pengolahan lahan, tidak bisa setiap saat tanam dan panen
Kepenuhan nutrisi

Terpenuhi karena kita bisa mengaturnya dengan ukuran (formula) yang pasti.
Tidak selalu (pemenuhan kebutuhan nutrisi sulit diukur dengan tepat)
Hama dan penyakit

Relatif aman, terlindung oleh green house

Beresiko karena ruang terbuka
Fleksibilitas

Tanaman dapat dipindah-pindah tanpa tanpa mengganggu pertumbuhan; contoh: pada saat pompa air mati, tanaman dapat dipindah ke unit produksi yang lain.
Tanaman tidak bisa dipindah-pindah, tanaman akan stress.
Kecepatan adaptasi

Saat pindah tanam, bibit bisa langsung tumbuh tanpa aklimatisasi lama
Aklimatisasi lama
METODE AEROPONIK
Secara detail, prinsip aeroponik sebagai berikut. Stryrofoam yang digunakan berwarna putih, panjang 2 m, lebar 1 m dan tebal 3 cm. Stryrofoam dibor diameter 1.5 cm dengan jarak tanam 15 x 15 cm sehingga populasi yang diperoleh 44 tanaman/m2 atau 88 tanaman/helai stryrofoam. Bibit yang berumur 12 hari dimasukkan ke dalam lubang tanam yang dibantu dengan busa atau rockwool. Sekitar 30 cm dibawah helai stryrofoam dipasang selang PE diameter 19 mm. Tiap 80 cm selang PE ditancapi sprinkler spray jet warna hijau dengan curah (flowrate) 0,83 l/menit atau setara dengan 50b/jam dan bertekanan 1,5-2 atmosfir pada lubang (oritis) sprinkler.
Tenaga untuk mendorong digunakan pompa dengan daya listrik (watt) antara 800-1.600 W dan dengan debit 200-240 l/m. pompa yang sedemikian kuatnya dapat melayani 100-150 sprinkler atau setara lahan produksi sekitar 200 m2. Tekanan pompa min 1.5 atm, opt 2 atm (diukur dengan manometer).
Mengatur tekanan pompa perlu memperhitungkanhambatan-hambatan yang ada dalam penyaluran aliran. Misalnya, pompa berada tepat di permukaan tanah, sedangkan semua sprinkler berada pada 60 cm diatas permukaan tanah. Tenaga untuk menaikkan 60 cm keatas merupakan hambatan yang akan mengurangi tekanan dan harus diperhitungkan. Selain itu, adanya percabangaan T, siku (elbow) pada belokan, dan keran (ballvalve) juga dapat mengurangi tekanan. Pipa penyalur yang kecil akan menghasilkan gesekan aliran larutan dengan dinding pipa sehingga lebih baik menggunakan pipa atau selang berukuran agak besar untuk mengurangi gesekan. Filter digunakan untuk mengurangi kotoran yang dapat menyumbat lubang sprinkler. Terdapat beberapa macam ukuran filter dari yang kecil, sedang dan besar.Ukuran tersebut menggambarkan jumlah liter aliran yang dapat dilalui per jam. Pancaran kekuatan tinggi akan membentuk kabut butiran halus dengan jarak tembak lebih dari satu meter, dengan turbulensi tinggi dan akan mengambang lama di udara sehingga dapai mengenai seluruh sistem perakaran.
JENIS TANAMAN AEROPONIK
Peluang kebutuhan akan sayuran berkualitaas sangat terbuka dengan makin banyaknya masyarakat yang berbelanja ke pasar swalayan. Diversivikasi jenis sayuran perlu dilaksanakan untuk memenuhi berbagai permintaan pasar. Hingga saat ini jenis sayuran yang banyak dibudidayakan secara aeroponik antara lain berbagai kultivar selada (lettuce keriting hijau, cos/romaine, butterhead, batavia, lollo rossa, iceberg, head lettuce), pakchoy hijau dan putih, caysim, dan kailan serta horenzo yang baru mulai dikembangan. Kangkung dan bayam juga dapat diusahakan secara aeroponik.
Dapat disimpulkan bahwa jenis tanaman yang sering dibudidayakan secara aeroponik pada umumnya berupa sayuran daun yang waktu panennya sekitar satu bulan setelah pindah tanam. Harga jualkomoditas tersebut juga dipilih yang dapt memberikan keuntungan maksimal. Tanaman rempah penyedap masakan, seperti oregano, parsley, thyme, dill dan basil dapat diusahakan dalam volume kecil. Namun karena harga jualnya tinggi maka konsumen atau target pasar ke hotek berbintang dan restpran eksklusif.
PRASARANA SERRA
Istilah greenhouse menimbulkan banyak persepsi. Oleh karena itu maka istilahnya diganti dengan serra. Serra berasal dari kata serres (bahasa Perancis) yang berarti atap yang tepinya bergerigi.
Serra atau greenhouse merupakan bangunan yang dibuat untuk melindungi tanaman dari gangguan luar, misalnya cahaya matahari, hujan, angin, maupun hama dan penyakit.
1.      Serra Plastik
Rangka serra plastik berasal dari kayu atau bambu. Adapun atapnya menggunakan platik UV (ultra violet). Sisi serra plastik hendaknya diberikan kasa (screen) untuk untuk menghindari hama masuk, ventilasi dan meredam kecepatan angin.
2.      Serra Net
Atapnya terbuat dari net plastik hitam untuk mengurangi intensitas cahaya, tetapi hama dapat masuk kebun dan air hujan dapat masuk. Net mempunyai daya redam cahaya yang berbeda-beda, misalnya 45%, 55%, 65%, 75% dan 85%. Pada umumnya net yang digunakan 65% berarti 65 % daari cahaya teredam dan hanya 35% yang dapat menembus masuk dalam serra. Kelemahan menggunakan net adalah pada saat mendung atau pagi hari intensitas yang masuk tidaak cukup untuk fotosintesis dengan baik.


3.      Serra Kasa
Terbuat dari kasa (screen nylon) atau kasa nyamuk. Ada beberapa warna putih, hijau, kuning muda dan biru. Bila menggunakan kasa putih maka cahaya akan leluasa masuk dalam serra. Bila diinginkan cahaya yang agak redup karena disesuaikan dengan kebutuhan tanaman maka dapat dipilih kasa yang berwarna hijau.
Kasa dapat ditembus oleh hujan sehingga lahan menjadi besek daan lembab serta pekerja tidak daapat leluasa melakukan perawatan. Dalam kondisi lembab, tanaman mudah terserang penyakit cendawan. Air hujan dapat terakumulasi di bagian tengah kasa sehingg bagian tersebut menggelendong.
PRASARANA IRIGASI
Dalam budidaya tanaman aeroponik, juga dibutuhkan sarana irigasi, peralatan yang dibutuhkan antara lain:
a.   Tong untuk pekatan nutrisi
b.  Tandon larutan
c.   Pralon
d.  Selang PE
e.   Bak tanaman
f.   Pompa air (bertekanan tinggi dan bervolume besar)
g.  Sprinkler
h.  Timer
i.    Genset atau generator
PRASARANA PERALATAN AEROPONIK
1.  EC-meter (electro conductivity, penghantaran listrik)
Merupakan alat untuk mengukur kepekatan hara dalam larutan. Satuan ukurannya mS atau mmho. Pemakaiannya cukup dicelepkan ke dalam larutan hara.
2.  TDS-meter (Tottal dissolved solutes/solids)
Merupakan jumlah bobot garam-garam yang terlarut. Angka yang tertera mempunyai satuan ppm. TDS sekitar 700 ppm setara dengan EC 1 mS. Anjuran angka TDS 640 ppm atau 700 ppm.
3.  PH-meter
Cara penggunaan dicelupkan pada larutan nutrisi. Setelah alatnya dipakai maka harus dicuci dengan airbersih atau aqua destilata sebelum digunakan untuk menera larutan lain.
4.  Oksigen-meter
Sebenarnya oksigenasi pada aeroponik tidak menimbulkan masalah karena butiran kabut yang halus akan merambah oksigen yang berada diudara sehingga pada saat akar menyerap larutan hara, oksigen terlarut telah mencukupi. Namun beberapa pekebun tetap menginginkan pengukuran kadar oksigen pada larutan. Pengukuran oksigen terlarut yang paling tepat ialah pada zona perakaran tetapi karena harus dicelupkan maka pengukurannya dilakukan dalam tandon larutan hara.
5.  Higrometer
Kelembaban optimal adalah 70%. Higrometer dipasang ditengah pertanaman sekitar 30 cm diatas tajuk tanaman. Dengan demikian kelembaban yang tercatat merupakan kelembaban di sekitar tajuk tanaman. Dengan peletakan tersebut, angka RH-nya mudah terlihat dari kejauhan sehingga kita dapat cepat bertindak bila terjadi penyimpangan.
6.  Termometer
Alat pengukur suhu atau temperatur kadang disatukan dengan higrometer sehingga pengamatannya hanya sekali. Suhu udara optimum sekitar 250C untuk sayuran daun yang dibudidayakan secara aeroponik. Suhu tersebut sebenarnya lebih disesuaikan dengan jenis tanamannya. Karena pada umumnya jenis sayuran yang dibudidayakan berasal dari negeri beriklim sedang.
SARANA PRODUKSI
Komponen sarana produksi yaitu komponen yang hanya sekali pakai habis, seperti benih, media semai, pupuk dan pestisida. Pupuk yang digunakan dapat diramu sendiri atau dibeli. Perusahaan besar biasanya meramu sendiri berdasarkan rumus tertentu sehingga lebih fleksibel dan dapat disesuaikan dengan keadaan cuaca maupun iklim.

EKOSISTEM PADA BUDIDAYA AEROPONIK
Ekosistem pertanian mempunyai pengertian hubungan antara tanaman dengan komponen disekelilingnya sehingga tercipta lingkungan hidup yang baik bagi tanaman. Di bawah ini diuraikan komponen ekosistem dan cara merekayasa untuk menunjang pertumbuhan tanaman, antara lain:
1.  Curah Hujan
Curah hujan berpengaruh secara tidak langsung pada produksi aeroponik. Pada musim penghujan dengan kelembaban tinggi maka akan banyak cendawan. Penggunaan serra plastik dapat melindungi kebun dari hujan. Pada musim kemarau tanaman layu dan menguning. Pada kondisi tersebut, hama akan menyerang tanaman karena mikroorganisme patogen yang biasanya menyerang hama tidak dapat berkembang biak dalam kondisi kering.
2.  Kelembaban
Kelembaban nisbi atau RH (relative humidity) optimal sekitar 70%. Pada RH tersebut, turgor (tegangan sel) dan proses fisiologi di dalam tanaman berlangsung dengan baik. Daya isap air dan hara oleh akar juga masih cukup.
besar. Untuk memonitor tingkat kelembaban di dalam bangunan dapat digunakan higrometer.
Tingkat kelembaban berpengaruh terhadap evapotranspirasi, yaitu tenaga pengisap untuk mengangkat air dan hara dari akar ke tajuk tanaman. Bila kelembaban udara terlalu tinggi maka evapotranspirasi akan kecil. Kelembaban yang tinggi dipengaruhi oleh jarak tanam. Kelembaban dibilang rendah apabila 50%. Tanaman yang layu sementara 1 jam saja dapat mengundur umur tanaman selama 2 hari.
Untuk mencegah turunnya RH dengan sistem sprinkler didalam serra. Sistem ini dijalankan apabila RH dibawah 50%. Kelembaban optimum dapat dicapai kembali dalam 10-15 menit.
3.  Cahaya
Cahaya diperlukan untuk proses fotosintesis, baik asimilasi CO2 untuk pembentukan karbohidrat maupun asimilasi protein. Protein dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Disamping intensitas cahaya, lama penyinaran juga mempengaruhi jumlah energi matahari yang sampai ke bumi. Bila intensitas cahaya yang diterima tanaman terlalu besar maka gelombang cahaya yang sampai ke helaian daun akan berubah menjadi panas yang tinggi. Akibatnya, terjadi kekacauan proses fisiologi di dalam jaringan, klorofil rusak dan warna daun berubah menjadi kuning atau disebut kebakaran (sunburn). Bila intensitas cahaya lebih tinggi lagi, daun akan hangus (scorching).
Pada musim penghujan untuk menjaga proses fotosintesis dengan menambahkan unsur Mg dan Fe sebanyak 10% kedalam ramuan pupuk. Untuk meningkatkan konsentrasi Fe biasanya digunakan kelat atau chelate Fe-EDTA. Selang dan pipa yang digunakan harus kedap cahaya dan helai strofoam dipasang secara rapat dan tidak dapat dilalui cahaya agar pertumbuhan ganggang dapat dicegah. Selain itu dapat pula dipasang screen filter untuk menjaga kebersihan larutan dari ganggang. Screen filter ini perlu dibuka sehari sekali lalu dibersihkan dengan air dan sikat halus. Adanya ganggang perlu dicegah karena dapat menyambut sprinkler.
4.  Suhu
Konstruksi serra sebaiknya berbentuk piggy back (punggung babi). Untuk menurunkan suhu didalam serra dipasang sprinkler di bagian atas atap serra dan didalam serra. Suhu tandon larutan yang ideal 210C. Di Jakarta, tandon yang tidak kena sinar matahari dan tanpa chiller suhu dapat mencapai 26,60C. Pendapat bahwa suhu larytan di tndon harus rendah didasarkan pada kenyataan bahwa pada suhubrendah kadar oksigennya lebih tinggi.
5.  Elevasi
Tinggi tempat mempengaruhi jenis tanaman yang akan ditanam. Contoh sayuran dataran rendah yaitu kangkung, bayam, pakchoy, caisim dan kailan. Adapun sayuran dataran tinggi antara lain head lettuce, iceberg lettuce, cos/romaine, lollo rossa dan butterhead.
6.  Angin
Angin berfungsi meniup udara panas keluar serra, menurunkan kelembaban yang terlampau tinggi, udara segar masuk membawa CO2.
7.  Keasaman (pH)
Kesaran pH yang baik antara 5,5-6,5 dan optimum sekitar 6,0. untuk menurunkan pH dapat digunakan H3PO4 dan untuk menaikkan pH digunakan KOH. Agar keasaman di larutan aeroponik dapat stabil maka digunakan buffer MKP (monokalium fosfat – KH2PO4) yang dapat menstabilkan pH sekitar 6,0. Bila ingin pH sekitar 5,5 dianjurkan menggunakan MAP monoamonium fosfat (NH4H2PO4)
8.  Air
Air hendaknya steril dengan diberikan kaporit dengan dosis 3,2 g /m2 larutan hara didalam tandon dua kali seminggu untuk membasmi mikroorganisme di dalam air.
9.  Oksigen
Tanaman memerlukan oksigen untuk melakukan respirasi. Pada aeroponik, air dipancarkan melalui sprinkler dengan tenaga pompa bertekanan tinggi, 1,5-2 atmosfer, sehingga butiran air akan mengabut. Tiap butiran kabut akan menangkap oksigen dari udara hingga mencapai kadar maksimum oksigen terlarut sekitar 10 ppm pada suhu 250C.
10.  Penghantaran Listrik
Untuk memproduksi sayuran daun kadang ditingkatkan EC menjadi 2,5-3,0 bahkan 3,5 tetapi menyebabkan biaya pupuk meningkat. Pemberian EC sebaiknya tidak lebih dari 4,5 mS karena hara tidak terserap lagi oleh akar. Kadang dipakai cF (conductivity factor) yang angkanya 10 kali lipat sehingga EC 2,0 mS/cm menjadi cF 20.
PEMBIBITAN
a.   Wadah Semai
Wadah semai dapat berupa nampan plastik yang ukurannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan bibit yang diperlukan. Jarak tanam benih 1 cm x 1 cm. Dalam satu lubang dimasukkan 1 benih.
b.  Media Semai
Media semai dapat berupa arang sekam, bubuk sabut kelapa, kompos dan tanah gembur. Tebal media di nampan semai sekitar 4 cm dianggap cukup untuk berbagai perakaran anak semai sayuran.
c.   Benih
Benih yang dipilih hendaknya sesuai dengan permintaan pasar. Aeroponik hendaknya diarahkan pada tanaman berumur pendek dan ringan, misalnya caysim, pakchoy, kalian dan lettuce.
d.  Penanaman Benih
Benih ditanam dalam barisan dan diatasnya ditutupi dengan arang sekam setebal 0,5 cm untuk menjaga kelembaban. Penyiraman dilakukan sehari satu kali dan ditempatkan pada tempat yang teduh.
e.   Perawatan Pesemaian
Cahaya harus cukup karena bila bibit kurang cahaya akan pucat, lemah dan sering mati. Pupuk yang digunakan mempunyai EC 1 – 1,2 mS atau setara dengan 1 g/l air. Dalam waktu 10-14 hari, anak semai sudak layak untuk dipindah tanamkan. Sehari menjelang pindah tanam di semprot dengan fungisida dan insektisida.
F. Pindah-tanam Anak Semai ke Lapangan
Anak semai yang akan dipindahtanamkan dicabut dari nampan, dicuci dan dibersihkan dari arang sekam.Hipokotil, bagian antara kotil diatas dengan pangkal akar dibungkus dengan sepotng rockwool atau busa. Waktu antara pencabutan hingga pindah tanam di lapangan hendaknya dilakukan dengan secepatnya, karena anak semai peka dengan kekeringan.











BUDIDAYA  DENGAN METODE AEROPONIK TERHADAP TANAMAN TOMAT CHERRY
Peluang usaha budidaya tomat cherry hidroponik ini saat ini masih cukup terbuka lebar karena tergolong baru dan belum banyak orang yang membudidayakannya . Tomat Cherry menjadi pilihan karena rasanya yang manis , crispy , berwarna merah dan ukurannya mini . Bisa di panen 2-3 bulan dan pemeliharaanya ringan dan mudah.
Syarat Lingkungan.
 Tidak seperti budidaya tomat dilahan terbuka yang sangat terpengaruh cuaca,lingkungan tanaman di green house bisa diatur sesuai syarat lingkungan yang di butuhkan.Tommat Cheery cocok ditanam pada daerah ketinggian 600-1500 m dpl dan bersuhu 17-28 derajat C.
Penyemaian dan Penanaman.
Biji Tomat Cheery terlebih dahulu dijadikan bibit dahulu selama dua bulan. Penyemaian bibit atau pembibitan mengunakan tray (wadah persemaian berbentuk kotak bersekat berbahan plastik) yang diisi dengan media tanam berupa rock wool (bentuknya mirip sabut kelapa).
Setelah satu bulan dan tinggi tanaman mencapai 15 cm barulah bibit bisa dipindahkan kelokasi tanam didalam green house. Bibit tersebut ditanam didalam polybag ukuran 30-35 cm berisi arang sekam yang disusun berjajar.
Pemeliharan.
Selama pemeliharaan kondisi green house usahakan selau tertutup dan steril agar tanaman tidak terserang serangga atau penyakit. Jangan lupa terus mengecek keadaan tanaman ,misalnya apa ada serangga yang menempel, membuang daun tua agar area tanaman tetap bersih, dan melihat keadaan buah yang kurang bagus , misalnya ada yang penyok ,bekas kuku ataupun pecah sebaiknya           dibuang.
Untuk menyiram tanaman tomat dilakukan bersama dengan pemupukan menggunakan pompa. Pupuk dilarutkan dalam air dan disiram ketanaman. Sehari bisa dilakukan dua kali penyiraman, tetapi pada kondisi tertentu misalnya musim panas bisa 3 kali dan lamanya penyiraman bisa bisa memakan waktu        5          menit.
Pupuk yang digunakan berupa pupuk khusus hidroponix yang disebut larutan AB mix.takaranya pupuk cair diencerkan dengan air sebanyak x ml pupuk x 200 . Misalnya 5ml larutan pupuk stok A dan 5 ml larutan pupuk stok B diencerkan dengan tambahan air sampai menjadi 1000 ml larutan pupuk (dihitung dari 5 ml x 200)
Panen.
Setelah masa penyemaian benih menjadi bibit selam satu bulan, 2-3 bulan kemudian sudah bisa dilakukam panen perdana. Tanaman ini dipanen dua hari sekali sampai 5-6 bulan lamanya, sehingga total produktipitas Tomat Cheery sekitar 10 Bulan dan setelah itu harus diganti dengan bibit baru.
Sebelum tanaman diganti agar terus mendapat panen yang kontinyu,sebaiknya dilakukan penyemaian tanaman baru sekitar selama 4 bulan sebelumnya.buah yang dipanen tidak usah dicuci untuk menghindari kebusukan cukup dilap saja sampai bersih lalu di kemas.
















DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Sistem Aeroponik.  http://www.pikiran-rakyat.com/
Agung, L.S. 2008. Sistem Aeroponik pada Sayuran. http://www. amazingfarm.com
Ernawati Reni. 2007. Penanaman Aeroponik. http://an2rezodhy.multiply.com/journal/item/14/PENANAMAN_AEROPONIKKusumaningrum, Dian. 2007. Memetik Kepuasan Bersama Aeroponikhttp://www.suaramerdeka.com/harian/0709/10/x_nas.html
Kojima, Kazuo and H. Suhardianto. 1991. Studies of the Zone Cooling System in Greenhouses. Environtment Control in Biology 29 (1):1-10
Matsuoka, T. 1992. Thermal and Flowing Aspect of Growing Tomatoes in Aeropinic System. Environtment Control in Biology 30 (3):119-125
Sutiyoso, Y. 2003. Aeroponik Sayuran. Budidaya dengan Sistem Pengabutan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tasurun. 2009. Budidaya Sayuran Dengan Sistem Aeroponik. http://profiletasurun.blogspot.com/
Villareal R.L. 1980. Tomatoes in the Tropic. Westview Press. Colorado.

Kamis, 06 Oktober 2011

Sumur Resapan yuuukkkk

A.   BIOPORI
Lubang resapan biopori merupakan teknologi tepat guna untuk mengurangi genangan air dan sampah organik serta konservasi air bawah tanah. Untuk setiap 100 m2 lahan idealnya Lubang Resapan Biopori (LRB) dibuat sebanyak 30 titik dengan jarak antara 0,5 - 1 m. Dengan kedalam 100 cm dan diameter 10 cm setiap lubang bisa menampung 7,8 liter sampah. Sampah dapur dapat menjadi kompos dalam jangka waktu 15-30 hari, sementara sampah kebun berupa daun dan ranting bisa menjadi kompos dalam waktu 2-3 bulan.
Biopori dapat meresapkan air hujan ke dalam tanah. Biopori merupakan teknologi alternatif penyerapan air hujan selain dengan sumur resapan. Biopori juga dapat disebut  istana cacing, walaupun penghuni biopori bukan hanya cacing saja. Biopori adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat aktivitas organisme yang ada di dalamnya, seperti cacing, perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah lainnya. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah. Bila lubang-lubang ini dibuat dengan jumlah banyak, maka kemampuan dari sebidang tanah untuk meresapkan air diharapkan semakin meningkat.
Meningkatnyan kemampuan tanah dalam meresapkan air akan memperkecil terjadinya aliran air di permukaan tanah atau dengan kata lain dapat mengurangi bahaya banjir. Peningkatan jumlah biopori tersebut dapat dilakukan dengan membuat lubang ke dalam tanah. Lubang-lubang tersebut selanjutnya diisi bahan organik, seperti sampah-sampah organik rumah tangga, potongan rumput atau vegetasi lainnya. Bahan organik ini kelak akan dijadikan sumber energi bagi organisme di dalam tanah sehingga aktivitas mereka akan meningkat. Dengan meningkatnya aktivitas mereka maka semakin banyak biopori yang terbentuk. Diharapkan hal ini mampu mengembalikan keharaan tanah yang terdisfungsi. Dengan terbentuknya lubang biopori ini dimanfaatkan sebagai lubang persapan air artifisial yang relatif murah dan ramah lingkungan. Biopori paling dikenal dengan pembuatan sumur atau lubang resapan, diaplikasikan untuk air hujan bukan air larian permukaan daerah perkotaan maupun air limbah, sehingga cocok untuk daerah yang kepadatan penduduknya masih rendah. Konsep dari sumur resapan adalah suatu sistem drainase dimana air hujan yang jatuh di atap atau lahan kedap air ditampung pada suatu sistem resapan air. Sumur resapan ini merupakan sumur kosong dengan maksud kapasitas tampungannya cukup besar sebelum air meresap ke dalam tanah dengan memperhatikan kondisi lingkungan setempat.
Ukuran lubang biopori sedalam 80-100cm dengan diameter 10-30 cm, dimaksudkan sebagi lubang resapan untuk menampung air hujan dan meresapkannya kembali ke tanah. Biopori memperbesar daya tampung tanah terhadap air hujan, mengurangi genangan air, yang selanjutnya mengurangi limpahan air hujan turun ke sungai.
Bila lubang-lubang seperti ini dapat dibuat dengan jumlah banyak, maka kemampuan dari sebidang tanah untuk meresapkan air akan diharapkan semakin meningkat. Meningkatnya kemampuan tanah dalam meresapkan air akan memperkecil peluang terjadinya aliran air di permukaan tanah, atau dengan perkataan lain akan dapat mengurangi bahaya banjir yang mungkin terjadi.   Peningkatan    jumlah    biopori     tersebut     dapat     dilakukan dengan membuat lubang vertikal kedalam tanah. 
   Untuk mengatasi keterbatasan lahan contohnya pada kawasan komplek perumahan, pembuatan sumur resapan kolektif (bersama) dapat dijadikan solusi. Berdasarkan lahan yang tersedia, sumur resapan kolektif dapat dibuat dalam bentuk kolam resapan, sumur dalam, dan parit bercorak. Untuk kolam resapan cocok dibuat pada wilayah dengan lahan yang cukup dan kondisi air tanah yang dangkal (kurang dari lima meter), untuk sumur dalam dapat dibuat pada lahan sempit dengan air tanah yang dalam (lebih dari lima meter), sedangkan jika lahan sempit dan air tanahnya juga dangkal dapat dibuat parit dengan dasar berliang.
Manfaat yang bisa didapat dari pembuatan biopori antara lain :
1.  Mencegah banjir
Banjir sendiri telah menjadi bencana yang merugikan bagi warga. Keberadaan lubang biopori dapat menjadi jawaban dari masalah tersebut. Bayangkan bila setiap rumah, kantor atau tiap bangunan memiliki biopori berarti jumlah air yang segera masuk ke tanah tentu banyak pula dan dapat mencegah terjadinya banjir.
2.  Tempat pembuangan sampah organik
Banyaknya sampah yang bertumpuk juga telah menjadi masalah tersendiri di kota. Kita dapat pula membantu mengurangi masalah ini dengan memisahkan sampah rumah tangga kita menjadi sampah organik dan non organik. Untuk sampah organik dapat kita buang dalam lubang biopori yang kita buat.
3.  Menyuburkan tanaman
Sampah organik yang kita buang di lubang biopori merupakan makanan untuk organisme yang ada dalam tanah. Organisme tersebut dapat membuat sampah menjadi kompos yang merupakan pupuk bagi tanaman di sekitarnya.
4.  Meningkatkan kualitas air tanah
Organisme dalam tanah mampu membuat samapah menjadi mineral-mineral yang kemudian dapat larut dalam air. Hasilnya, air tanah menjadi berkualitas karena mengandung mineral.
Tempat yang dapat dibuat / dipasang lubang biopori resapan air :
1. Pada alas saluran air hujan di sekitar rumah, kantor, sekolah, dsb.
2. Di sekeliling pohon.
3. Pada tanah kosong antar tanaman / batas tanaman.
Cara Pembuatan sumur resapan biopori:
§  Persiapan alat dan bahan
a.       Alat
Alat-alat yang dibutuhkan adalah antara lain bor tanah, peralon, loster penutup LBR, ember dan linggis.
b.      Bahan
Bahan-bahan yang dibutuhkan antara seresah berupa sampah organik, semen dan pasir.
c.       Cara pembuatan
Ø Dengan sebuah bor LRB kita bisa membuat lubang, untuk memudahkan pembuatan lubang bisa dibantu diberi air agar tanah lebih gembur.
         I.                        Alat bor dimasukkan dan setelah penuh tanah (kurang lebih 10 cm kedalaman tanah) diangkat, untuk dikeluarkan tanahnya, lalu kembali lagi memperdalam lubang tersebut sampai sebelum muka air tanah (30 cm sampai dengan 100 cm).
Ø  LRB dalam alur lurus berjarak 0,5 - 1 m, sementara untuk LRB pohon cukup dibuat 3 lubang dengan posisi segitiga sama sisi.
Ø Pada bibir lubang dilakukan pengerasan dengan semen, pada acara kemarin semen digantikan dengan potongan pendek pralon. Hal ini untuk mencegah terjadinya erosi tanah.
Ø Kemudian di bagian atas diberi pengaman besi supaya tidak terperosok ke         dalam  lubang.
Ø Masukkan sampah organik (sisa dapur, sampah kebun/taman) ke dalam LRB. Jangan memasukkan sampah anorganik (seperti besi, plastic, baterai.      Stereofoam,dll)
Ø Bila sampah tidak banyak cukup diletakkan di mulut lubang, tapi bila sampah cukup banyak bisa dibantu dimasukkan dengan tongkat tumpul, tetapi tidak boleh terlalu padat karena akan mengganggu proses peresapan air ke samping.
Pemeliharaan LRB:
1.Lubang Resapan Biopori harus selalu terisi sampah organik
2.Sampah organik dapur bisa diambil sebagai kompos setelah dua minggu, sementara sampah kebun setelah dua bulan. Lama pembuatan kompos juga tergantung jenis tanah tempat pembuatan LRB, tanah lempung agak lebih lama proses kehancurannya. Pengambilan dilakukan dengan alat bor LRB.
3.Bila tidak diambil maka kompos akan terserap oleh tanah, LBR harus tetap dipantau supaya terisi sampah organik.























B.     RORAK
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzCQw002g6YJkz0BwT-GExA2Lj1TXM2fwBpgVdWVWzzGSZvFjSOfOpynllFJsFPfWlXcIPq7FaY2jO0cLcoLJ8I4dx0re3jxnoE8qkzdc_SSqlIVzrwkEExI8hFF0cKXwVrPLoKyovmsWB/s400/gbr1.PNG
B.  TUJUAN
1.    Mencegah hilangnya tanah lapisan atas, oleh erosi dan aliran permukaan (run off).
2.   Penampung air hujan yang jatuh dan aliran permukaan dari bagian atas, partikel tanah yang tererosi dari bagian atasnya.
3.   Untuk mengembalikan produktivitas lahan, produksi usahatani dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani.
4.  Untuk menampung bahan organik, sisa-sisa tanaman sebagai sumber unsur hara yang bermanfaat bagi tanaman di sekitarnya.
C. Cara pembuatan
1.    Bersihkan lahan dari semak dan gulma.
2. Lakukan pengukuran pada bidang olah sesuai kountor, dengan ondol-ondol dan pasang ajir pada ketinggian yang sama.
3. Tentukan letak rorak yang akan dibuat sesuai ajir yang telah dipasang.
4.    Ukur panjang, lebar rorak sesuai dengan keadaan lahan dan tanaman supaya tidak menganggu pertumbuhan tanaman biasanya panjang 1 m sampai 5 m, lebar 0.3 m membentuk huruf U menghaadap lereng.
5.    Gali rorak dengan kedalaman 0.3 m sampai 0.5 m dan tanah galian di atur membentuk bedengan dengan ketinggian 0.2 m dan lebar 0.3 m membentuk huruf U menghadap lereng.
6.  Ulangi cara pembuatan rorak tersebut pada tempat lain sesuai ajir yang telah di pasang.
7.   Jarak vertical rorak satu dengan kedua antara 10 m sampai 15 m.
8.   Lakukan perawatan berkala supaya rorak tetap berfungsi sebagaimana mestinya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiig0SQicLarWwGaIUNtDimSGX2ANx4g0IddmtBrUWGqlIXUjxosE_8BhEtjIzu4ZGMpERgyYgHg0GWdqMpevWSl-aUKDWyJYGOBVOs1F4j3fBrSZInkrGNkGt4slb4GX7k_FJUuemjqnI/s1600/clip_image010.gif