Kamis, 06 Oktober 2011

Sumur Resapan yuuukkkk

A.   BIOPORI
Lubang resapan biopori merupakan teknologi tepat guna untuk mengurangi genangan air dan sampah organik serta konservasi air bawah tanah. Untuk setiap 100 m2 lahan idealnya Lubang Resapan Biopori (LRB) dibuat sebanyak 30 titik dengan jarak antara 0,5 - 1 m. Dengan kedalam 100 cm dan diameter 10 cm setiap lubang bisa menampung 7,8 liter sampah. Sampah dapur dapat menjadi kompos dalam jangka waktu 15-30 hari, sementara sampah kebun berupa daun dan ranting bisa menjadi kompos dalam waktu 2-3 bulan.
Biopori dapat meresapkan air hujan ke dalam tanah. Biopori merupakan teknologi alternatif penyerapan air hujan selain dengan sumur resapan. Biopori juga dapat disebut  istana cacing, walaupun penghuni biopori bukan hanya cacing saja. Biopori adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat aktivitas organisme yang ada di dalamnya, seperti cacing, perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah lainnya. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah. Bila lubang-lubang ini dibuat dengan jumlah banyak, maka kemampuan dari sebidang tanah untuk meresapkan air diharapkan semakin meningkat.
Meningkatnyan kemampuan tanah dalam meresapkan air akan memperkecil terjadinya aliran air di permukaan tanah atau dengan kata lain dapat mengurangi bahaya banjir. Peningkatan jumlah biopori tersebut dapat dilakukan dengan membuat lubang ke dalam tanah. Lubang-lubang tersebut selanjutnya diisi bahan organik, seperti sampah-sampah organik rumah tangga, potongan rumput atau vegetasi lainnya. Bahan organik ini kelak akan dijadikan sumber energi bagi organisme di dalam tanah sehingga aktivitas mereka akan meningkat. Dengan meningkatnya aktivitas mereka maka semakin banyak biopori yang terbentuk. Diharapkan hal ini mampu mengembalikan keharaan tanah yang terdisfungsi. Dengan terbentuknya lubang biopori ini dimanfaatkan sebagai lubang persapan air artifisial yang relatif murah dan ramah lingkungan. Biopori paling dikenal dengan pembuatan sumur atau lubang resapan, diaplikasikan untuk air hujan bukan air larian permukaan daerah perkotaan maupun air limbah, sehingga cocok untuk daerah yang kepadatan penduduknya masih rendah. Konsep dari sumur resapan adalah suatu sistem drainase dimana air hujan yang jatuh di atap atau lahan kedap air ditampung pada suatu sistem resapan air. Sumur resapan ini merupakan sumur kosong dengan maksud kapasitas tampungannya cukup besar sebelum air meresap ke dalam tanah dengan memperhatikan kondisi lingkungan setempat.
Ukuran lubang biopori sedalam 80-100cm dengan diameter 10-30 cm, dimaksudkan sebagi lubang resapan untuk menampung air hujan dan meresapkannya kembali ke tanah. Biopori memperbesar daya tampung tanah terhadap air hujan, mengurangi genangan air, yang selanjutnya mengurangi limpahan air hujan turun ke sungai.
Bila lubang-lubang seperti ini dapat dibuat dengan jumlah banyak, maka kemampuan dari sebidang tanah untuk meresapkan air akan diharapkan semakin meningkat. Meningkatnya kemampuan tanah dalam meresapkan air akan memperkecil peluang terjadinya aliran air di permukaan tanah, atau dengan perkataan lain akan dapat mengurangi bahaya banjir yang mungkin terjadi.   Peningkatan    jumlah    biopori     tersebut     dapat     dilakukan dengan membuat lubang vertikal kedalam tanah. 
   Untuk mengatasi keterbatasan lahan contohnya pada kawasan komplek perumahan, pembuatan sumur resapan kolektif (bersama) dapat dijadikan solusi. Berdasarkan lahan yang tersedia, sumur resapan kolektif dapat dibuat dalam bentuk kolam resapan, sumur dalam, dan parit bercorak. Untuk kolam resapan cocok dibuat pada wilayah dengan lahan yang cukup dan kondisi air tanah yang dangkal (kurang dari lima meter), untuk sumur dalam dapat dibuat pada lahan sempit dengan air tanah yang dalam (lebih dari lima meter), sedangkan jika lahan sempit dan air tanahnya juga dangkal dapat dibuat parit dengan dasar berliang.
Manfaat yang bisa didapat dari pembuatan biopori antara lain :
1.  Mencegah banjir
Banjir sendiri telah menjadi bencana yang merugikan bagi warga. Keberadaan lubang biopori dapat menjadi jawaban dari masalah tersebut. Bayangkan bila setiap rumah, kantor atau tiap bangunan memiliki biopori berarti jumlah air yang segera masuk ke tanah tentu banyak pula dan dapat mencegah terjadinya banjir.
2.  Tempat pembuangan sampah organik
Banyaknya sampah yang bertumpuk juga telah menjadi masalah tersendiri di kota. Kita dapat pula membantu mengurangi masalah ini dengan memisahkan sampah rumah tangga kita menjadi sampah organik dan non organik. Untuk sampah organik dapat kita buang dalam lubang biopori yang kita buat.
3.  Menyuburkan tanaman
Sampah organik yang kita buang di lubang biopori merupakan makanan untuk organisme yang ada dalam tanah. Organisme tersebut dapat membuat sampah menjadi kompos yang merupakan pupuk bagi tanaman di sekitarnya.
4.  Meningkatkan kualitas air tanah
Organisme dalam tanah mampu membuat samapah menjadi mineral-mineral yang kemudian dapat larut dalam air. Hasilnya, air tanah menjadi berkualitas karena mengandung mineral.
Tempat yang dapat dibuat / dipasang lubang biopori resapan air :
1. Pada alas saluran air hujan di sekitar rumah, kantor, sekolah, dsb.
2. Di sekeliling pohon.
3. Pada tanah kosong antar tanaman / batas tanaman.
Cara Pembuatan sumur resapan biopori:
§  Persiapan alat dan bahan
a.       Alat
Alat-alat yang dibutuhkan adalah antara lain bor tanah, peralon, loster penutup LBR, ember dan linggis.
b.      Bahan
Bahan-bahan yang dibutuhkan antara seresah berupa sampah organik, semen dan pasir.
c.       Cara pembuatan
Ø Dengan sebuah bor LRB kita bisa membuat lubang, untuk memudahkan pembuatan lubang bisa dibantu diberi air agar tanah lebih gembur.
         I.                        Alat bor dimasukkan dan setelah penuh tanah (kurang lebih 10 cm kedalaman tanah) diangkat, untuk dikeluarkan tanahnya, lalu kembali lagi memperdalam lubang tersebut sampai sebelum muka air tanah (30 cm sampai dengan 100 cm).
Ø  LRB dalam alur lurus berjarak 0,5 - 1 m, sementara untuk LRB pohon cukup dibuat 3 lubang dengan posisi segitiga sama sisi.
Ø Pada bibir lubang dilakukan pengerasan dengan semen, pada acara kemarin semen digantikan dengan potongan pendek pralon. Hal ini untuk mencegah terjadinya erosi tanah.
Ø Kemudian di bagian atas diberi pengaman besi supaya tidak terperosok ke         dalam  lubang.
Ø Masukkan sampah organik (sisa dapur, sampah kebun/taman) ke dalam LRB. Jangan memasukkan sampah anorganik (seperti besi, plastic, baterai.      Stereofoam,dll)
Ø Bila sampah tidak banyak cukup diletakkan di mulut lubang, tapi bila sampah cukup banyak bisa dibantu dimasukkan dengan tongkat tumpul, tetapi tidak boleh terlalu padat karena akan mengganggu proses peresapan air ke samping.
Pemeliharaan LRB:
1.Lubang Resapan Biopori harus selalu terisi sampah organik
2.Sampah organik dapur bisa diambil sebagai kompos setelah dua minggu, sementara sampah kebun setelah dua bulan. Lama pembuatan kompos juga tergantung jenis tanah tempat pembuatan LRB, tanah lempung agak lebih lama proses kehancurannya. Pengambilan dilakukan dengan alat bor LRB.
3.Bila tidak diambil maka kompos akan terserap oleh tanah, LBR harus tetap dipantau supaya terisi sampah organik.























B.     RORAK
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzCQw002g6YJkz0BwT-GExA2Lj1TXM2fwBpgVdWVWzzGSZvFjSOfOpynllFJsFPfWlXcIPq7FaY2jO0cLcoLJ8I4dx0re3jxnoE8qkzdc_SSqlIVzrwkEExI8hFF0cKXwVrPLoKyovmsWB/s400/gbr1.PNG
B.  TUJUAN
1.    Mencegah hilangnya tanah lapisan atas, oleh erosi dan aliran permukaan (run off).
2.   Penampung air hujan yang jatuh dan aliran permukaan dari bagian atas, partikel tanah yang tererosi dari bagian atasnya.
3.   Untuk mengembalikan produktivitas lahan, produksi usahatani dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani.
4.  Untuk menampung bahan organik, sisa-sisa tanaman sebagai sumber unsur hara yang bermanfaat bagi tanaman di sekitarnya.
C. Cara pembuatan
1.    Bersihkan lahan dari semak dan gulma.
2. Lakukan pengukuran pada bidang olah sesuai kountor, dengan ondol-ondol dan pasang ajir pada ketinggian yang sama.
3. Tentukan letak rorak yang akan dibuat sesuai ajir yang telah dipasang.
4.    Ukur panjang, lebar rorak sesuai dengan keadaan lahan dan tanaman supaya tidak menganggu pertumbuhan tanaman biasanya panjang 1 m sampai 5 m, lebar 0.3 m membentuk huruf U menghaadap lereng.
5.    Gali rorak dengan kedalaman 0.3 m sampai 0.5 m dan tanah galian di atur membentuk bedengan dengan ketinggian 0.2 m dan lebar 0.3 m membentuk huruf U menghadap lereng.
6.  Ulangi cara pembuatan rorak tersebut pada tempat lain sesuai ajir yang telah di pasang.
7.   Jarak vertical rorak satu dengan kedua antara 10 m sampai 15 m.
8.   Lakukan perawatan berkala supaya rorak tetap berfungsi sebagaimana mestinya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiig0SQicLarWwGaIUNtDimSGX2ANx4g0IddmtBrUWGqlIXUjxosE_8BhEtjIzu4ZGMpERgyYgHg0GWdqMpevWSl-aUKDWyJYGOBVOs1F4j3fBrSZInkrGNkGt4slb4GX7k_FJUuemjqnI/s1600/clip_image010.gif






























Tidak ada komentar:

Posting Komentar